Kicauan burung terdengar merdu, sang mentari yang menyinari
dunia telah dating. Di sebuah sekolah ada siswa yang semangat belajarnya sangat
tinggi, ia bernama Nana. Nana selalu belajar dengan giat, agar ia dapat
mengumpulakan banyak pretasi, sama seperti kakaknya. Suatu hari diadakan lomba
kesenian, di lomba tersebut ada terdapat beberapa bidang diantaranya: Lomba
menyanyi, Story telling, Menulis cerpen dan lain-lain.
Guru-guru
di sekolah itu mampercayai Nana di lomba tersebut dalam bidang Story Telling.
Keesokan harinya Nana dan teman-temannya berangkat ketempat lomba tersebut.
Selama perjalanan Nana terus berlatih, sehingga ia tak menyempatkan diri untuk
beristirahat dan mengobrol dengan temannya. Rhyry yang satu bidang dengan Nana
berkata “Na, udah donk kamu gak capek? Dari
tadi kamu belum ada istirahat loh?”. Karena Nana merasa terganggu dengan
ucapan Rhyry. Ia memarah-marahi Rhyry, dan ia berkata “ Eh, biasa aja donk. Suka-suka aku donk mau ngapain, ada masalah buat
kamu?”.
Selama
diperjalanan mereka terus bertengkar, dan akhirnya Divdiv teman Nana dan Rhyry,
melerai mereka dan berkata” Udahlah
temen-temen kalian jangan bertengkar donk. Kita harus berusaha, biar kita semua
menang!”. Setelah mendengar perkataan Divdiv mereka mulai menyadari bahwa
untuk apa bertengkar karena hal yang sepele. Tanpa membuang waktu Nana langsung
memeluk Rhyry dan meminta maaf.
Tak
terasa ternyata mereka sudah sampai ditempat perlombaan. Nana merasa gugup,
karena Nana demam panggung. Tiba-tiba Rhyry yang sebidang dengan Nana memberikan
motivasi agar Nana percaya diri. Tibalah giliran Nana untuk maju, setelah Nana
selesai menunjukkan bakatnya juri langsung membarikan pendat kepada Nana. Juri
berkata “ Penampilan kamu sangat bagus, kamu layak untuk mendapatkan juara”.
Perasaan gugup Nana seketika berubah menjadi senang. Setelah semua peserta
menunjukkan kemampuannya, semua peserta dikumplkan di lapangan untuk
memberitahu pemenang di setiap lomba. Tibalah di bidang Story Telling, juri
menyebutkan nama-nama pemenang “Pemenang
ketiga dipegang oleh Aulinia, Pemenang kedua dipegang oleh Novia, dan pemenang
pertama dipegang oleh Nana. Nana begitu senang, Dia berfikir bahwa usaha
yang ia lakukan selama ini tidak sia-sia. Kemudian juri juga memberikan sebuah
infirmasi yang penting bahwa “ Seluruh
pemenang pertama dari segala bidang perlombaan agar mempersiapkan diri, karena
dua hari lagi akan dibawa ke tingkat provinsi. Lomba diadakan si Brastagi.
Sekian dan terimakasih”.
Saaatnya
pun telah tiba, Nana pun berangkat ke Brastagi bersama teman-temannya dan guru
pembimbingnya. Selama di perjalanan ia bersantai-santai dan tak memperdulikan
mengenai lombanya, karena didalam fikiran Nana dialah yang paling hebat dan
takkan ada yang dapat mengalahkannya. Guru pembing Nana berkata “ Na yuk latihan buat lomba?”. Nana
menjawab
“ Ya ampun
udahlah buk ngapain kita latihan, toh gak aka nada yang bisa lebih baik dari
pada aku”.
Guru pembimbing Nana terus menasehati Nana, agar dia berlatih untuk lombanya.
Tetapi tetap saja Nana tak mau mendengarnya.
Tibalah
saatnya untuk Nana tampil, Nana naik ke atas panggung dengan perasaan bahwa ia
adalah calon pemenang. Sesampai Nana diatas panggung, ana merasa gugup dan ia
tak bisa mengatakan apa-apa di atas panggung itu. Karena Nana gugup, Nana
langsung turun dari panggung dengan perasaan malu. Tibalah saat pengumuman
pemenang, juri menyebutkan nama-nama pemenang. Dari juara satu sampai tiga
tidak ada nama Nana. Nana menangis karena ia merasa bahwa ia dalah orang yang
paling bodoh. Nana lari meninggalkan tempat perlombaan itu, ia berusaha untuk
menenangkan dirinya tetapi tidak bisa. Tiba-tiba pembimbing Nana mengatakan “ Yah sudahlah kekalahan adalah awal dari
kesuksesan dan kita tidak boleh puas atau pin bersombong diri dengan apa yang
kita punya”. Setelah mendengar perkataan guru pembimbingnya perasaannya
sudah mulai legah. Dan sepulang ia dari sana ia mulai merendah diri, dan
mencoba untuk terus belajat dari kesalahan.
